adsense

Senin, 23 Mei 2011

Askes

Sejarah Singkat PT ASKES (Persero)

PT Askes (Persero) merupakan Badan Usaha Milik Negara yang ditugaskan khusus oleh pemerintah untuk menyelenggarakan jaminan pemeliharaan kesehatan bagi Pegawai Negeri Sipil, Penerima Pensiun PNS dan TNI/POLRI, Veteran, Perintis Kemerdekaan beserta keluarganya dan Badan Usaha lainnya. Sejarah singkat penyelenggaraan program Asuransi Kesehatan sebagai berikut :

1968
Pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan yang secara jelas mengatur pemeliharaan kesehatan bagi Pegawai Negeri dan Penerima Pensiun (PNS dan ABRI) beserta anggota keluarganya berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 230 Tahun 1968. Menteri Kesehatan membentuk Badan Khusus di lingkungan Departemen Kesehatan RI yaitu Badan Penyelenggara Dana Pemeliharaan Kesehatan (BPDPK), dimana oleh Menteri Kesehatan RI pada waktu itu (Prof. Dr. G.A. Siwabessy) dinyatakan sebagai embrio Asuransi Kesehatan Nasional.

1984
Untuk lebih meningkatkan program jaminan pemeliharaan kesehatan bagi peserta dan agar dapat dikelola secara profesional, Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1984 tentang Pemeliharaan Kesehatan bagi Pegawai Negeri Sipil, Penerima Pensiun (PNS, ABRI dan Pejabat Negara) beserta anggota keluarganya. Dengan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 1984, status badan penyelenggara diubah menjadi Perusahaan Umum Husada Bhakti.

1991Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1991, kepesertaan program jaminan pemeliharaan kesehatan yang dikelola Perum Husada Bhakti ditambah dengan Veteran dan Perintis Kemerdekaan beserta anggota keluarganya. Disamping itu, perusahaan diijinkan memperluas jangkauan kepesertaannya ke badan usaha dan badan lainnya sebagai peserta sukarela.

1992
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1992 status Perum diubah menjadi Perusahaan Perseroan (PT Persero) dengan pertimbangan fleksibilitas pengelolaan keuangan, kontribusi kepada Pemerintah dapat dinegosiasi untuk kepentingan pelayanan kepada peserta dan manajemen lebih mandiri.

2005
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1241/Menkes/XI/2004 PT Askes (Persero) ditunjuk sebagai penyelenggara Program Jaminan Kesehatan Bagi Masyarakat Miskin (PJKMM). PT Askes (Persero) mendapat penugasan untuk mengelola kepesertaan serta pelayanan kesehatan dasar dan rujukan

2008Pemerintah mengubah nama Program Jaminan Kesehatan Bagi Masyarakat Miskin (PJKMM) menjadi Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). PT Askes (Persero) berdasarkan Surat Menteri Kesehatan RI Nomor 112/Menkes/II/2008 mendapat penugasan untuk melaksanakan Manajemen Kepesertaan Program Jamkesmas yang meliputi tatalaksana kepesertaan, tatalakasana pelayanan dan tatalaksana organisasi dan manajemen.
Sebagai tindak lanjut atas diberlakukannya Undang-undang Nomor 40/2004 tentang SJSN PT Askes (Persero) pada 6 Oktober 2008 PT Askes (Persero) mendirikan anak perusahan yang akan mengelola Kepesertaan Askes Komersial. Berdasarkan Akta Notaris Nomor 2 Tahun 2008 berdiri anak perusahaan PT Askes (Persero) dengan nama PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia yang dikenal juga dengan sebutan PT AJII

2009
Pada tanggal 20 Maret 2009 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor Kep-38/KM.10/2009 PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia selaku anak perusahaan dari PT Askes (Persero) telah memperoleh ijin operasionalnya. Dengan dikeluarkannya ijin operasional ini maka PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia dapat mulai menyelenggarakan asuransi kesehatan bagi masyarakat.

Curhat nih......
Berdasarkan sejarah Askes yg udah lama, harusnya bisa menjadi Asuransi Kesehatan yang terbaik saat ini. Akan tetapi kok saya merasa bahwa Askes ini merupakan asuransi yang terkesan menyulitkan dengan birokrasi bertele-tele.

Untuk pola pikir sederhana begini:
- kita adalah peserta askes
- semua RS pemerintah menerima askes
- sedikit RS swasta juga menerima/bekerja sama dengan askes
- semua puskesmas menerima askes
maka dengan begitu
- bila ingin berobat/konsultasi dokter di RS yang menerima askes akan ditanggung askes
- bila ingin berobat tinggal daftar saja dan askes yang mengurusi biaya.

Tapi yang terjadi disini tidak begitu.
Anda mungkin masih menemui di beberapa tempat tentang birokrasi yang buruk pada instansi pemerintah, entah itu kelurahan, samsat, imigrasi, dsb. Ada banyak loket yang harus didatangi yang menurut efisiensi dan manfaat hanya menyatakan mungkin hanya butuh 2 loket saja. Tetapi kita di putar-putar dari loket A ke loket B ke loket C kembali ke loket A, sedangkan total loket sampai X, padahal setelah diteliti proses tersebut hanya membutuhkan loket A dan loket B saja.
Askes pun demikian, kita tidak bisa begitu saja berobat di RS yang menerima askes melainkan harus ke puskesmas umtuk minta surat rujukan ke RS. Lebih parahnya lagi adalah tidak bisa minta surat rujukan disembarang puskesmas, harus di puskesmas tempat kartu askes kita terdaftar. Tuh kan... puskesmas aja udah susah.
Bayangkan waktu yang terbuang untuk ke puskesmas, antri di puskesmas, menunggu surat rujukan, total waktu yang terbuang bisa setengah hari sedangkan tujuan utama kita adalah RS, bukan puskesmas.

Akibatnya apa?
Akibatnya adalah kita tidak mau bertele-tele dan akhirnya lebih baik mengeluarkan uang untuk biaya berobat karena kartu askes tidak bisa dipakai bila tidak melalui prosedur yang berbelit-belit.
Ini mungkin TRIK JAHAT yang dilakukan askes agar uang perusahaan tidak bayar klaim untuk membiayai pengobatan. "Kita susahin aja prosedurnya, nanti kan orang males pake kartu terus bayar sendiri, kan jadi hemat cuma bayarin orang2 yg pake askes di puskesmas". Mungkin saja pas rapat pimpinan mereka ngomong begitu.

Kalo ngeluh bilang aja sama askesnya langsung
Saya sudah telp. 500400 dan mengutarakan (tidak membaratkan) masalah ini dan operatornya hanya bilang "saran bapak kami tampung". Tampung gundulmu.....
Saya coba saran lewat web http://www.ptaskes.com/masukan-saran tapi apa coba? pas klik kirim trus pesannya error. Gimana mau terima saran kalo gini.

Apakah nantinya ada perbaikan?
Saya harapkan ADA. Tapi para direksi haruslah orang-orang yang profesional yang bisa melihat keluhan pesrta askes dan memberikan solusinya. Mungkin selama ini mereka santai-santai saja karena jumlah kuli negara alias pegawai negeri semakin meningkat setiap tahunnya dan otomatis premi mengalir meskipun pegawai tidak menikmati fasilitas askes. Sehingga kelangsungan hidup perusahaan terjamin dan mereka tetap dapat gaji dengan kemungkinan PHK kecil.

Mudah-mudahan sih bisa berubah. Amiin....

Jumat, 06 Mei 2011

Komisi VIII DPR

Assalamu'alaikum wr. wb.

Hari ini banyak media mulai dari media cetak maupun elektronik menanggapi masalah email resmi Komisi VIII DPR. Wakil Ketua DPR mengatakan masalah sepele jangan dibesar-besarkan, itu kan cuma masalah teknis yaitu alamat email.

Tetapi bila dilihat dari keseluruhan, email tersebut memang bukan masalah utama yang perlu dibicarakan secara serius dan para anggota DPR tersebut sudah menuai ribuan komen negatif mulai dari menghina, menyindir, mengajari, menghujat dan komen negatif lainnya.

Yang perlu dibicarakan disini adalah mengenai kunjungan mereka ke Australia yang pada judul awalnya adalah studi banding untuk mengentaskan kemiskinan.

Studi banding ini hanyalah sebuah kebohongan besar yang dilakukan mereka. Saya sebagai rakyat merasa disakiti. Mereka kesana sengaja mencari jadwal pada saat pejabat Australia reses. Mau studi banding sama siapa mereka ? Ternyata pada saat forum dengan PPIA juga dilihat bahwa agenda mereka bertemu dengan pejabat disana tidak ada. Mereka hanya bertemu dengan Pelajar Indonesia di Australia yang seharusnya bisa dilakukan dengan teleconference.

Ini membuktikan bahwa mereka cuma ingin jalan-jalan dengan membawa keluarga mereka, dengan anggaran yang berlebih agar pulang masih ada sisa uang. Disini saya merasa disakiti lagi.

Jadi intinya bukan pada punya tidaknya email resmi, tetapi pada tujuan dan hasil kunjungan dibanding anggaran yang dikeluarkan. Kalo dipikirin makin sakit hati sebagai rakyat.

Kadang-kadang saya berpikir, saya sekolah di Sekolah Dasar, melanjutkan ke SLTP, lalu saya sekolah di SMU. Setelah tamat sekolah saya lanjutkan dengan Kuliah di Perguruan Tinggi. Saya sudah merasakan perbedaan pola pikir dengan diri saya waktu di Sekolah Dasar, Sekolah Menengah dan Sekolah Tinggi. Pendidikan telah merubah pola pikir saya menjadi lebih baik, lebih memperhatikan sesama, lebih teliti dalam mengambil keputusan, membuat saya memiliki rasa tanggung jawab.
Dari sini saya berpikir, kok mereka yang rata-rata duduk di kursi yang terhormat pola pikirnya sama dengan saya yang duduk di bangku SLTP. Disini saya bilang "rata-rata" karena saya melihat ada juga beberapa yang pola pikirnya lebih baik dari saya.

Apakah mereka itu membeli "IJAZAH"? baik yang S1 maupun S2. Karena tidak tercermin pola pikir sarjana atau yang minimal berakhlak mulia.

Yang ada di pikiran mereka adalah "bagaimana cara agar balik modal ditambah keuntungan berkali lipat". Sedih rasanya melihat wakil rakyat yang begini.

Kembali kepada topik awal yang membicarakan email resmi. Jangan lupakan agenda mereka ke Australia untuk apa dan apa hasilnya.

Apakah untuk DPR tidak ada badan pengawas untuk menyaring keperluan ke Luar Negeri ? Ini diperlukan agar uang Negara tidak kecolongan.
Misal, Komisi "Lapan" mau studi banding masalah kemiskinan ke Australia. Disini kan bisa dilihat tingkat kebutuhan studi banding tinggi atau tidak? Jadwal dilihat, kalau disana libur kan tidak bisa studi banding dan seharusnya tidak dikabulkan keberangkatan mereka.

Dimohon kepada LSM atau Lembaga Pengawas untuk mengawasi DPR jangan sampai kecolongan memakai uang Negara untuk hal percuma.

Dari....
Seorang rakyat yang sakit hati atas kelakuan wakilnya

Wassalau'alaikum wr wb.

Rabu, 02 September 2009

Diabetes

They have given me my life back'

By Jane Elliott
Health reporter, BBC News

Gareth Roberts
Gareth was diagnosed at 10 weeks

When Gareth Roberts has a sugary drink and a couple of chocolate bars his blood sugar levels soar.

But within hours they are back to normal.

For Gareth, aged 32 from Blackpool, this is a huge change.

At the age of just 10 weeks he was diagnosed with neonatal diabetes and until recently he had to carefully watch what he ate and needed to inject himself with insulin four times a day.

Wonder drug

Then doctors diagnosed him with a gene mutation, and he was weaned off insulin and on to tablets that are specially suited for his type of diabetes.

He is delighted with the results.

They said it was a complete shot in the dark and might not affect me, but that if it did it would transform my life
Gareth Roberts

"After the test result came back positive I was able to come off insulin and go on to tablets," he said.

"Even after eating all the wrong kind of food my blood sugar levels went back to normal without needing any insulin.

"I can eat anything now, but my doctor did warn me to take care and to remember I still had diabetes."

Gareth said diabetes had dominated his life.

"Because I was diagnosed so young I didn't know anything different," he said.

"But it was terrible on insulin - swinging between too low and too high blood sugars.

"I tried to keep a balance, but my blood sugars were always up and down."

Then, two years ago doctors tried him on the tablets.

Mutated gene

About one in 100,000 babies are born with neonatal diabetes each year. The condition is diagnosed in the first six months of life.

A woman injecting. Pic: Chassenet/SPL
The pills mean no more injections for Gareth

The standard treatment - regular injections of insulin - helps to control their blood sugar levels to a degree, but cannot prevent fluctuations.

The breakthrough came from a team of scientists at the Peninsula Medical School in Exeter.

Using DNA testing, they showed that about half of the children with this condition had a mutation in a key gene which prevented them from releasing insulin in response to a rise in blood sugar levels.

They also found a potential answer: a group of drugs called sulphonylureas, which are already used to treat people with type 2, or adult onset, diabetes.

Sulphonylureas help people with neonatal diabetes to release insulin from their own pancreas.

Meeting families

Two researchers - Professor Andrew Hattersley, from Peninsula and Professor Frances Ashcroft, of the University of Oxford - who played a leading role in the discovery recently held a meeting of parents, patients, doctors and scientists.

Professor Ashcroft said it had been exciting for the scientists to see the effect the drug had on patients.

"It was a wonderful day. As a scientist working on a human disease, you hope that your work will help patients one day," she said.

"But you never expect that it will have an impact in your own lifetime, and you certainly never expect to meet people whose lives have been helped by it.

"To have some one say 'You have transformed my life' is extraordinary".

Professor Hattersley said the new treatment really had transformed patients' lives.

"As soon as the problem was discovered, patients can be given the drugs," he said.

Neonatal diabetes
Neonatal diabetes is diagnosed in the first six months of life
It affects one in 100,000 babies
Although neonatal diabetes produces no insulin it is different from the more common type 1

"This has had a fantastic effect because their blood sugar levels are very much more stable.

"Gareth was struggling with diabetes and trying to balance things with insulin - his life has now changed dramatically.

"The key message we have been getting out to doctors and patients is that anyone diagnosed with diabetes under six months should have genetic testing.

"This treatment does not work in patients who do not have the genetic change."

'My life back'

Gareth said the Exeter and Oxford teams have given him back his life.

He initially got a letter from his local hospital in Blackpool, inviting him to give a blood sample.

"They said it was a complete shot in the dark and might not affect me, but that if it did it would transform my life.

"And it has. Within six weeks of taking these tablets I had stopped taking insulin.

"Now I have no insulin at all, which is such a relief.

"At the time I was having four injections a day and you have to keep on taking the blood sugars, but since I have been on the tablets it has been great.

"I take one in the morning and one at night but I am not tied to when I take them. Every time I take a blood test now it is normal."


http://news.bbc.co.uk/2/hi/health/8176275.stm

Subhanallah

Hidup di Arctic atau di antartika merupakan sesuatu yang mustahil bagi makhluk apapun, tetapi disini Allah memperlihatkan kebesarannya.

Dengan suhu yang konstan extremely cold masih ada kehidupan yang sungguh indah.
























Selasa, 18 November 2008

Sadarkanlah Pemimpin Kami

Ya Allah yang Maha Perkasa.....
Sadarkanlah para pemimpin kami untuk memikirkan rakyat agar negeri ini sejahtera.

Ya Allah yang Maha Adil.....
Sadarkanlah para Pemimpin kami untuk mengangkat ekonomi rakyat, khususnya para fakir miskin. Tidak memimpin untuk memperkaya diri dan partainya.

Amiin ya Allah.....

Senin, 25 Agustus 2008

Pengumuman DepKeu

Buat yang udah tes TPA untuk PNS Depkeu trus ketinggalan liat pengumuman di web bisa download dari sini
Pengumuman klik disini
Daftar lolos TPA klik disini

Jumat, 18 Juli 2008

Pemadaman listrik bergilir

Kalo emang pemerintah mikirin rakyat, gak akan ada pemadaman listrik sampe bergilir segala.
Alasan bahan bakar mahal lah, ini lah, itu lah, dan bukan ini donk, itu donk...

Kalo bahan bakar mahal kenapa sok murah hati kasih minyak mentah dan emas ke Amerika.
Menyerahkan pertambangan ke perusahaan Amerika sama saja dengan mencuri kekayaan bangsa yang seharusnya dikelola negara untuk kepentingan rakyat.

Kan ada di UUD 45, kalo gak salah bunyinya gini : "Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat."
Ini sudah pelanggaran terhadap UUD 45, kekayaan alam bukan dikuasai negara malah dikuasai perusahaan Amerika. Dan mereka hanya membayar sekitar 10% dari hasilnya.

Selain itu BUMN mau pada dijual.
"Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil mengatakan, tahun 2008 pemerintah akan menjual sebagian saham 16 badan usaha milik negara. Rencana privatisasi 16 perusahaan milik negara tahun 2008 masih diseleksi".
Pemerintah kok jual aset rakyat. Geblek!

Masih menyangkut harga minyak dunia, harusnya seluruh tambang minyak di Indonesia di nasionalisasi trus dikelola negara. Keluar dari OPEC dan kelola kilang minyak sendiri, beli alatnya, jangan ada minyak yang di ekspor. Pemerintah pada mikirin perut sendiri sih, pasti pemerintah dapet duit dari perusahaan Amerika, kalo gak gitu gak mungkin pertamina kalah tender di blok Cepu trus Exxon mobil berkuasa.

Kalo Indonesia sudah keluar dari OPEC n kelola minyak sendiri, pasti harga bensin bisa Rp. 3.000,-.

Kalo harga bahan bakar udah murah, PLN juga gak keberatan dan gak akan ada pemadaman bergilir lagi.

Itu kalo tadi ditinjau dari harga minyak.
Padahal energi kan bukan dari minyak aja.
Pantai selatan pulau jawa kan anginnya cukup untuk menggerakkan kincir raksasa untuk pembangkit listrik, modal sedikit jadi listrik yang pake energi gratis yaitu angin. Tinggal bayar aja sama Allah lewat sumbangan, contohnya "PLN membangun masjid di...".

Anda tahu pemandian air panas Ciater, Ciseeng, gunung pancar ? Panas bumi bisa dijadikan energi yang dikonversi untuk menggerakkan turbin seperti yang ada di daerah sukabumi.

Gunung merapi juga bisa dimanfaatkan panasnya sebagai energi, tinggal mencari lahan aman yang tidak dilewati lahar kalo gunung meletus.

PLN juga bisa buat pengelolaan sampah untuk menghasilkan biogas yang bisa dijadikan bahan bakar. Sekalian cari untung dari jualan kompos dan plastik daur ulang.

Begitu banyak alternatif dan peluang yang ada. Dan pemerintah hanya tutup mata mengenai alternatif ini karena TIDAK ADA KEUNTUNGAN UNTUK MEREKA.

Harusnya pemerintah sadar bahwa mereka memikul amanah dari rakyat dan wajib bekerja untuk kesejahteraan rakyat.

Akankah pemimpin pada tahun 2009 nanti mempunyai hati nurani yang selalu memikirkan rakyat?
Akankah pemimpin nanti akan mementingkan perut rakyat diatas perut sendiri ?